Metodologi Pendidikan dalam Al Quran

Dalam  Al Quran, banyak sekali terdapat ayat-ayat yang berkaitan dengan pendidikan. Terlebih jika kita mendalaminya secara khusus kandungan ayat-ayat tersebut.  Dalam kesempatan ini , penulis akan mengelaborasikan beberapa ayat Al Quran yang berkaitan dengan metode pendidikan. Metode yang digunakan adalah analisis  deduktif, dimana dengan cara semacam ini pembaca akan dengan mudah menyimpulkan arah dari kandungan pembahasan.  Adapun ayat yang ingin dikaji pada kesempatan ini adalah ;

1.      QS. MARYAM : 41-50

Allah SWT berfirman ;

﴿ وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّهٗ كَانَ صِدِّيْقاً نَّبِيًّا * إِذْ قَالَ لِأَبِيْهِ يَآ أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْئاً *يَآ أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَآءَنِيْ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِيْ أَهْدِكَ صِرَاطاً سَوِيًّا *يَآ أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمٰنِ عَصِيًّا* يَآ أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ فَتَكُوْنُ لِلشَّيْطَانِ وَلِيّاً* قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ اٰلِـهَتِيْ يَآ إِبْرَاهِيْمَ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِيْ مَلِياً *قَالَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيّاً *وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَلاَّ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّاً * فَلَمَّا ٱعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلاًّ جَعَلْنَا نَبِيّاً * وَوَهَبْنَا لَهْم مِّن رَّحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيّاً  ﴾

Penjelasan umum ayat diatas adalah bahwa nabi Muhammad ﷺ diperintahkan Allah ﷻ untuk menceritakan, mengingat dan mengambil pelajaran dari peristiwa dialog Ibrahim ‘alaihis salam dengan bapaknya yang bernama Azaar. Ibrahim diberi gelar sebagai Shiddiqan Nabiyyan, karena beliau itu jujur dalam keimanannya kepada Allah  ﷻ sekaligus utusan Allah yang mengabarkan tentang keesaan Allah kepada ayahnya. Kemudian terjadilah dialog antara dia (Ibrahim dengan ayahnya).

“Wahai bapakku, Mengapa kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak mendengar jika engkau memanggilnya, tidak melihat ketika engkau menyembahnya dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun dari adzab Allah ?”

“Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang merupakan pemberian dari Allah yang ilmu itu tidak diberikan kepadamu, yaitu ilmu bahwa barangsiapa yang menyembah selain Allah, niscaya Allah akan mengadzab orang itu dengan api neraka. Maka ikutilah aku dalam agama Allah ini, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus yaitu Islam.”

“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan dalam bentuk penyembahan kepada berhala-berhala itu. Sesungguhnya syaitan itu durhaka lagi kafir kepada Ar Rahman (Tuhan yang Maha Pemurah). “

“Wahai bapakku, Sesungguhnya aku khawatir karena aku mengetahui bahwa engkau akan ditimpa azab dari Allah, Tuhan yang Maha Pemurah, jika engkau tidak segera beriman kepadaNya,  Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan didalam neraka”.”

Berkata bapaknya: “Bencikah kamu Hai Ibrahim kepada sesembahan yang aku sembah, yaitu berupa peribadatan yang aku lakukan kepada mereka? jika kamu tidak berhenti menasehatiku,  niscaya kamu akan kurajam dan aku bunuh engkau, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama, jangan engkau bicara denganku  selama aku masih hidup.”

Ibrahim pun berkata : “Wahai Ayah, semoga engkau diberi keselamatan, dan aku akan memintakan ampun kepada tuhanku atas perbuatanmu itu. Sungguh tuhanku itu Maha Mengetahui keinginanku  ini untuk dipenuhi. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, Mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.

Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. dan masing-masingnya kami angkat menjadi nabi. Dan kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat kami berupa anak shalih dan harta yang halal dan kami jadikan mereka buah tutur kata yang baik lagi tinggi.” [1]

Diantara faedah yang dapat diambil dari ayat diatas  jika dikaitkan dengan metodologi pendidikan adalah ;

  1. Salah satu metode dalam pendidikan Islam adalah metode bercerita yaitu mengisahkan peristiwa atau sejarah hidup manusia masa lampau yang menyangkut ketaatan dan kemungkarannya dalam hidup terhadap perintah Tuhan yang dibawakan oleh Nabi SAW yang hadir ditengah-tengah mereka.
  2. Metode kedua yang terkandung dalam ayat ini juga adalah metode diskusi. Metode ini juga diperhatikan oleh al Quran dalam mendidik dan mengajar manusia dengan tujuan lebih memantapkan pengertian dan sikap pengetahuan mereka terhadap suatu masalah.
  3. Metode ketiga yang terkandung dalam ayat ini adalah metode tanya jawab.  Metode ini merupakan metode paling tua dalam pendidikan dan pengajaran disamping metode khutbah.
  4. Metode keempat, metode Targhib dan Tarhib, Targhib adalah janji terhadap kesenangan dan kenikmatan akhirat yang disertai bujukan. Sedangkan tarhib adalah ancaman karena dosa yang dilakukan.

Menurut Al-Nahlawi[2] ada banyak metode dalam pendidikan agama Islam yang tercantum didalam Al Quran, diantaranya yaitu metode Hiwar (percakapan) Qur’ani dan Nabawi. Yaitu sebuah metodologi berupa percakapan yang dilakukan secara silih berganti antara dua aspek atau lebih mengenai suatu topik dan sengaja diarahkan pada satu tujuan yang dikehendaki oleh seorang pendidik. Dampak bagi pembicara dan pendengar adalah:

  1. Dialog itu berlangsung secara dinamis karena kedua pihak terlibat langsung dalam pembicaraan sehingga keduanya tidak bosan.
  2. Pendengar tertarik untuk mengikuti terus pembicaraan itu karena ingin tahu kesimpulannya.
  3. Dapat membangkitkan perasaan dan menimbulkan kesan dalam jiwa yang membantu mengarahkan seseorang menemukan sendiri kesimpulannya.
  4. Jika dilakukan dengan baik, maka akan mempengaruhi akhlak orang lain.

[1]  Al Fairuz Abadi (w.817 H) Tafsirul Quran, dikutip dari www. Al tafsir.com

[2]  Abdurrahman an Nahlawy, at Tarbiyah bil Hiwar, Libanon: Darul Fikr, 1421/2000, halaman 14 – 37.

Tentang admin_blog

Blog Pribadi
Pos ini dipublikasikan di Studi Ayat Tarbiyah dan Hadits Tarbawi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s