Arkeologi dan Arsitektur dalam timbangan Filsafat Islam

A.    PENDAHULUAN

         Arkeologi dan arsitektur merupakan dua cabang ilmu yang cukup menggegerkan dunia pengetahuan. Bagaimana tidak, penemuan para arkeolog mneunjukkan bahwa telah ada sebelum kita bangsa-bangsa terdahulu yang telah mencapai peradaban tinggi lagi maju. Bahkan lebih maju dibanding sekarang jika diukur dengan segala fasilitas yang ada pada masa itu dibandingkan dengan fasilitas kemajuan di zaman modern seperti sekarang ini.

         Akan tetapi seperti apakah gambaran dua macam ilmu diatas jika ditinjau dari sisi nilai filosofis. Dapatkah kedua ilmu ini mewariskan nilai-nilai ontologi, epistemologi dan aksiologi. Tulisan ini insya Allah merupakan satu usaha untuk menemukan jawaban dari pertanyaan diatas.

B.     ARKEOLOGI MENURUT BARAT

         Dalam pandangan barat, arkeologi adalah semata-mata ilmu pengetahuan tentang peninggalan sejarah manusia zaman kuno, khususnya yang berasal dari periode pra sejarah. Dalam perjalanannya Arkelologi dianggap sebagai ilmu yang mencakup apa saja yang berhubungan dengan sejarah umat-umat terdahulu yang hidup dimasa lampau. Standar kemajuan bangsa ini diukur berdasarkan pencapaian prestasi mereka dalam bidang seni dan arsitektur, bongkahan gedung dan patung-patung yang indah dipandang sebagai tanda-tanda peradaban besar dan kemajuan materiil suatu bangsa. Seluruh kegiatan arkeologi ini berusaha memproyeksikan keseluruhan sejarah suatu bangsa tanpa memperhitungkan sisi moralitas dan sikap mereka terhadap penciptanya.

         Pendekatan yang dilakukan oleh para arkeolog barat  dalam studi mereka ini hanyalah untuk mengetahui peradaban besar yang pernah diraih oleh suatu bangsa di masa lalu saja, tanpa mengambil pelajaran dari apa yang telah mereka dapatkan dalam penelitian arkeologi yang ditekuni.

   Oleh karena itu, hasil penemuan para arkeolog mereka tidak lain hanya akan semakin memperbesar kesombongan mereka atas Sang Penciptanya. Prediksi –prediksi yang ditempuh mereka untuk menentukan usia dan kemajuan peradaban besar bangsa di masa lalu tidak menjadikan mereka ingat kepada Sang Khalik, lalu beriman dan mengambil hikmah dari kehancuran bangsa yang besar dimasa lalu yang telah mereka temukan. Sehingga arkeologi dan arsitektur yang didalami oleh para arkeolog barat hanya berujung pada materialisme saja.

C.    ARKEOLOGI MENURUT AL QURAN

         Disisi lain banyak ayat yang tercantum di dalam kitab Allah (Al Quran) menerangkan anjuran untuk mempelajari Arkeologi ini sebagai upaya untuk mengambil pelajaran atas kehancuran bangsa yang besar di masa lalu. Allah SWT berfirman ;

أَوَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْـقُرُوْنِ يَمْشُوْنَ فِيْ مَسَاكِنِهِمْ إِنَّ فِي ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ أَفَلاَ يَسْمَعُوْنَ

Artinya :   “Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat sebelum mereka yang Telah kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah). Maka apakah mereka tidak mendengarkan?”( QS. As Sajdah : 26)

Dalam ayat yang lain, Allah SWT juga menjelaskan bahwa ;

أَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوْآ  أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَشَدَّ قُوَّةً  وَاٰثَارًا فِي الْأَرْضِ فَمَآ أَغْنٰى عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Artinya : Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.( QS. Al Mukmin: 82)

         Al Quran dalam masalah ini (studi Arkeologi) memberikan penekanan dan sudut pandang yang berbeda jauh dari sudut pandang Arkeologi Barat. Al Quran mengajak manusia memerhatikan kehidupan manusia masa lampau bukan untuk mengagumi kemegahan gedung, istana dan patung-patung yang mereka bangun, melainkan untuk melihat bagaimana mereka menjalani hidup didunia ini; apakah mereka hidup sebagai orang yang bebas diatas bumi tanpa mengenal kekuasaan sang Khaliq ataukah mereka percaya kepada-Nya, mematuhi dan mengikuti jalan utusan-utusanNya? Apakah mereka mengikuti ajaran-ajaran Tuhan atau hanya menuruti hawa nafsu rendahnya sendiri?. Jika mereka menaati perintah-perintah Allah yang mengatur seluruh kehidupan, mereka dipandang sebagai bangsa yang maju dan menggapai kesuksesan. Sebaliknya jika mereka mengikuti jalan setan, bangsa seperti ini disisi Allah adalah bangsa yang gagal, meskipun mereka telah mampu memmbangun peradaban, kebudayaan dan kerajaan yang besar lagi megah. Mereka dipandang Al Quran sebagai bangsa jahiliyah, tidak beradab dan tidak berdaya.

         Satu-satunya dasar pengukuran untuk menilai kemajuan orang masa lampau atau masa modern sekarang yang digunakan Al Quran adalah tingkat derajat keimanan dan kepercayaan mereka terhadap  Allah.

         Allah berfirman dalam Quran Surat Adz Dzariyat : 37-51;

وَتَرَكْنَا فِيْهَآ اٰيَةً لِلَّذِيْنَ يَـخَافُوْنَ الْعَذَابَ الْأَلِيْمَ  * وَفِيْ مُوسٰى إِذْ أَرْسَلْنَاهُ إِلٰى فِرْعَوْنَ بِسُلْطَانٍ مُّبِيْنٍ* فَتَوَلّٰى بِرُكْنِهٖ وَقَالَ سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُوْنٌ * فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهٗ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ وَهُوَ مُلِيْمٌ *  وَفِي عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيْحَ الْعَقِيْمَ * مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلاَّ جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِْ *  وَفِي ثَمُوْدَ إِذْ قِيْلَ لَهُمْ تَمَتَّعُوْا حَتّٰى حِيْنٍ * فَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ وَهُمْ يَنْظُرُوْنَ * فَمَا اسْتَطَاعُوْا مِنْ قِيَامٍ وَمَا كَانُوْا مُنْتَصِرِيْنَ * وَقَوْمَ نُوْحٍ مِنْ قَبْلُ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِيْنَ * وَالسَّمَآءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوْسِعُوْنَ * وَالْأَرْضَ فَرَشْنَاهَا فَنِعْمَ الْمَاهِدُوْنَ * وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ * فَفِرُّوْآ إِلَى اللهِ إِنِّيْ لَكُمْ مِنْهُ نَذِيْرٌ مُبِيْنٌ* وَلَا تَجْعَلُوْا مَعَ اللهِ إِلٰـهًااٰخَرَ إِنِّيْ لَكُمْ مِنْهُ نَذِيْرٌ مُبِيْنٌ *

  1. 37.  Dan kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda [2]bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih.
  2. 38.  Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika kami mengutusnya kepada Fir’aun dengan membawa mukjizat yang nyata.
  3. 39.  Maka dia (Fir’aun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya dan berkata: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.”
  4. 40.  Maka kami siksa dia dan tentaranya lalu kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia melakukan pekerjaan yang tercela.
  5. 41.  Dan juga pada (kisah) Aad ketika kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan,
  6. 42.  Angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk.
  7. 43.  Dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka: “Bersenang-senanglah kalian sampai suatu waktu.”
  8. 44.  Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya, lalu mereka disambar petir dan mereka melihatnya.
  9. 45.  Maka mereka sekali-kali tidak dapat bangun dan tidak pula mendapat pertolongan,
  10. 46.  Dan (Kami membinasakan) kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.
  11. 47.  Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa
  12. 48.  Dan bumi itu kami hamparkan, Maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami).
  13. 49.  Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.
  14. 50.  Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya Aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.
  15. 51.  Dan janganlah kamu mengadakan Tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya Aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.

Al Quran menganjurkan manusia agar melakukan perjalanan ke berbagai negeri dan memperhatikan peninggalan arkeologis serta mempelajari sejarah orang-orang terdahulu. Al Quran juga mengajak generasi manusia selanjutnya untuk menggugah perhatian dan pikiran mereka akan peristiwa sejarah itu agar mereka merenungkan serta mengambil pelajaran darinya.

Allah berfirman :

Artinya :” Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?.” (QS.Adz Dzariyat : 20-21)

Dalam Al Quran Allah juga menjelaskan bahwa dikatakan kepada manusia : “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” Oleh Karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah. Barangsiapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barangsiapa yang beramal saleh Maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan),

 D.    KESIMPULAN

         Secara ontologi, arkeologi dan arsitektur kuno memungkinkan untuk dipelajari guna menemukan sisa peninggalan peradaban masa lalu dari bangsa –bangsa terdahulu untuk kemudian diteliti dari sisi struktur dan hakekkat kebenaran tentang keberadaan bangsa-bangsa itu di zaman dahulu sebab telah dijelaskan Allah dalam Al Quran. Penemuan bangkai kerata Fir’aun, jasad Fir’aun dan perahu nabi Nuh u adalah bukti ontologis keberadaan manusia pada masa lalu

         Adapun dari sisi epistemologi, arkeologi dan arsitektur kuno merupakan PR besar bagi kaum muslimin untuk lebih bersemangat dalam menggiatkan kembali penelitian benda-benada bersejarah dari sisi arkeologi dan arsitektur. Secara wahyu, Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menegaskan sudah sepantasnya kaum muslimin berduyun-duyun untuk mendalami peradaban kemajuan masa lalu untuk kemudian dijadikan pelajaran bagi kemaslahatan manusia didunia dan akhirat.

         Keberadaan penemuan arkeologi dan arsitektur setidaknya dapat menjadi pelajaran bagi manusia bahwa kemajuan dan peradaban yang tinggi lagi besar itu tidak menjamin kemuliaan mereka dihadapan Tuhan. Setiap kemajuan peradaban dan teknologi yang tidak semakin mendekatkan diri para pelakunya kepada Allah dan lebih mengenal tuhannya adalah percuma dan tidak bermanfaat sama sekali.

Tentang admin_blog

Blog Pribadi
Pos ini dipublikasikan di Filsafat Ilmu. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s