Manajemen dan Materi Pendidikan Islam dalam al Quran dan As Sunnah

DSC08078a.    PENDAHULUAN

Pendidikan Islam merupakan bagian dari usaha manusia dalam mengembangkan  potensi yang tersembunyi dengan pengarahan, bimbingan dan latihan bagi peserta didik melalui ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah ke arah tujuan hakikatnya sebagai manusia dengan menggunakan perangkat-perangkat pendidikan yang dibutuhkan.

Oleh karena itu, adanya sasaran dan tujuan merupakan kemutlakan dalam proses kependidikan. Sasaran yang hendak dicapai dirumuskan secara jelas yang kemudian dikenal dengan tujuan pendidikan. Sedangkan sarana dan tata cara agar tujuan pendidikan itu tercapai dikenal dengan metode pendidikan.

Sebagai sebuah pendidikan, tentunya dalam sisi prakteknya ada pula materi yang dijadikan bahasan selama proses pendidikan itu berlangsung. Materi-materi tersebut merupakan bahan-bahan yang disajikan dalam proses pendidikan Islam baik formal mauppun non formal.

 

b.    PENTINGNYA METODOLOGI  DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Di dalam Al Quran terdapat banyak thariqah atau metodologi pendidikan yang mengacu pada prinsip rabbaniyah. Disifati rabbaniyah, karena metodologi yang digunakan berdasar pada wahyu ilahiyah, yang diaplikasikan oleh Rasulullah SAW dengan bimbingan dari Allah SWT. Prinsip rabbaniyah dalam metodologi pendidikan Qurani ini sangat jelas dalam memberikan hasil dan mutu untuk sebuah proses pendidikan manusia.

Metode dan pendekatan yang digunakan didalamnya adalah merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dalam sistem proses belajar mengajar yang berlangsung ditengah manusia sepanjang zaman. Karenanya dalam pendekatan metodologi telah terbukti ampuh sebagaimana bisa ditelaah dalam sejarah pendidikan masa lalu. Metodologi-metodologi  yang terkandung didalam Al Quran tersebut, menjadi menarik untuk diteliti dan diperdalam  analisisnya untuk kemudian dari hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan bagi perkembangan kemajuan pendidikan Islam dimasa mendatang.  Maka dengan mempertimbangkan kepentingan banyak pihak ini kajian metodologi pendidikan Islam yang rabbaniyah perlu digiatkan dan diberdayakan dengan baik dan maksimal.

 

c.    Beberapa ayat Quran yang berkaitan dengan Metodologi Pendidikan Islam

Ada beberapa ayat Al Quran yang berkaitan dengan metode pendidikan seperti ;

       

QS. MARYAM : 41-50

Allah SWT berfirman ;

﴿ وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّهٗ كَانَ صِدِّيْقاً نَّبِيًّا * إِذْ قَالَ لِأَبِيْهِ يَآ أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْئاً *يَآ أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَآءَنِيْ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِيْ أَهْدِكَ صِرَاطاً سَوِيًّا *يَآ أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمٰنِ عَصِيًّا* يَآ أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ فَتَكُوْنُ لِلشَّيْطَانِ وَلِيّاً*قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ اٰلِـهَتِيْ يَآ إِبْرَاهِيْمَ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِيْ مَلِياً*قَالَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيّاً *وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَلاَّ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّاً * فَلَمَّا ٱعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلاًّ جَعَلْنَا نَبِيّاً * وَوَهَبْنَا لَهْم مِّن رَّحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيّاً 

Penjelasan umum ayat diatas adalah bahwa nabi Muhammad diperintahkan Allah untuk menceritakan, mengingat dan mengambil pelajaran dari peristiwa dialog Ibrahim ‘alaihis salam dengan bapaknya yang bernama Azaar. Ibrahim diberi gelar sebagai Shiddiqan Nabiyyan, karena beliau itu jujur dalam keimanannya kepada Allah  sekaligus utusan Allah yang mengabarkan tentang keesaan Allah kepada ayahnya. Kemudian terjadilah dialog antara dia (Ibrahim dengan ayahnya).

“Wahai bapakku, Mengapa kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak mendengar jika engkau memanggilnya, tidak melihat ketika engkau menyembahnya dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun dari adzab Allah ?”

“Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang merupakan pemberian dari Allah yang ilmu itu tidak diberikan kepadamu, yaitu ilmu bahwa barangsiapa yang menyembah selain Allah, niscaya Allah akan mengadzab orang itu dengan api neraka. Maka ikutilah aku dalam agama Allah ini, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus yaitu Islam.”

“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan dalam bentuk penyembahan kepada berhala-berhala itu. Sesungguhnya syaitan itu durhaka lagi kafir kepada Ar Rahman (Tuhan yang Maha Pemurah). “

“Wahai bapakku, Sesungguhnya aku khawatir karena aku mengetahui bahwa engkau akan ditimpa azab dari Allah, Tuhan yang Maha Pemurah, jika engkau tidak segera beriman kepadaNya,  Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan didalam neraka”.”

Berkata bapaknya: “Bencikah kamu Hai Ibrahim kepada sesembahan yang aku sembah, yaitu berupa peribadatan yang aku lakukan kepada mereka? jika kamu tidak berhenti menasehatiku,  niscaya kamu akan kurajam dan aku bunuh engkau, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama, jangan engkau bicara denganku  selama aku masih hidup.”

Ibrahim pun berkata : “Wahai Ayah, semoga engkau diberi keselamatan, dan aku akan memintakan ampun kepada tuhanku atas perbuatanmu itu. Sungguh tuhanku itu Maha Mengetahui keinginanku  ini untuk dipenuhi. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, Mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.

Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. dan masing-masingnya kami angkat menjadi nabi. Dan kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat kami berupa anak shalih dan harta yang halal dan kami jadikan mereka buah tutur kata yang baik lagi tinggi.”[2]

Diantara faedah yang dapat diambil dari ayat diatas  jika dikaitkan dengan metodologi pendidikan adalah ;

a.       Salah satu metode dalam pendidikan Islam adalah metode bercerita yaitu mengisahkan peristiwa atau sejarah hidup manusia masa lampau yang menyangkut ketaatan dan kemungkarannya dalam hidup terhadap perintah Tuhan yang dibawakan oleh Nabi SAW yang hadir ditengah-tengah mereka.

b.      Metode kedua yang terkandung dalam ayat ini juga adalah metode diskusi. Metode ini juga diperhatikan oleh al Quran dalam mendidik dan mengajar manusia dengan tujuan lebih memantapkan pengertian dan sikap pengetahuan mereka terhadap suatu masalah.

c.       Metode ketiga yang terkandung dalam ayat ini adalah metode tanya jawab.  Metode ini merupakan metode paling tua dalam pendidikan dan pengajaran disamping metode khutbah.

d.      Metode keempat, metode Targhib dan Tarhib, Targhib adalah janji terhadap kesenangan dan kenikmatan akhirat yang disertai bujukan. Sedangkan tarhib adalah ancaman karena dosa yang dilakukan.

Menurut Al-Nahlawi[3] ada banyak metode dalam pendidikan agama Islam yang tercantum didalam Al Quran, diantaranya yaitu metode Hiwar (percakapan) Qur’ani dan Nabawi. Yaitu sebuah metodologi berupa percakapan yang dilakukan secara silih berganti antara dua aspek atau lebih mengenai suatu topik dan sengaja diarahkan pada satu tujuan yang dikehendaki oleh seorang pendidik. Dampak bagi pembicara dan pendengar adalah:

a.       Dialog itu berlangsung secara dinamis karena kedua pihak terlibat langsung dalam pembicaraan sehingga keduanya tidak bosan.

b.      Pendengar tertarik untuk mengikuti terus pembicaraan itu karena ingin tahu kesimpulannya.

c.       Dapat membangkitkan perasaan dan menimbulkan kesan dalam jiwa yang membantu mengarahkan seseorang menemukan sendiri kesimpulannya.

d.      Jika dilakukan dengan baik, maka akan mempengaruhi akhlak orang lain.

Q.S. AZ ZUMAR AYAT 8 DAN 9.

Allah SWT berfirman ;

وَإِذَا مَسَّ ٱلْإِنسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهٗ مُنِيْبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِّنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِن قَبْلُ وَجَعَلَ لِله أَندَادًا لِّيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيْلاً إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ ٱلنَّارِ  * أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَآءَ اللَّيلِ سَاجِداً وَقَآئِماً يَحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُواْ رَحْمَةَ رَبِّهٖ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلأَلْبَابِ  *  قُلْ يٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ آمَنُوْا ٱتَّقُواْ رَبَّكُمْ لِلَّذِيْنَ أَحْسَنُواْ فِي هٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ ٱللهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ*

Al Imam Al Fairuz Abadi[4] dalam Tafsirul Quran menjelaskan ayat ini bahwa ketika seorang hamba seperti Abu Jahal dan para pengikutnya ditimpa kemadharatan (kesusahan dan bencana), ia berharap kepada Allah agar menghilangkan kesusahan dan musibah tersebut darinya. Kemudian jika musibah dan kesusahan itu diganti dengan nikmat, orang itu lupa atas apa yang telah dilakukannya dahulu sebelum diberi nikmat (yaitu berdoa kepada Allah), dan melakukan perbuatan syirik lagi menyimpang lalu menyesatkan orang lain dari jalan yang benar. Dalam ayat berikutnya Allah mengabarkan bahwa tidaklah sama keberuntungannya antara orang-orang (yaitu nabi dan Abu Bakar Ash Shidiq juga para sahabatؓ) yang mentaati Allah siang dan malam, melakukan ibadah, mengingat kehidupan akhirat yang mereka mengetahui tauhidullah, perintah dan laranganNya dengan orang yang tidak mengetahui hal tersebut (seperti Abu Jahal dan pengikutnya). Dan yang dapat mengambil pelajaran tersebut hanyalah orang-orang yang berakal dan mau berfikir lah yang mendapat nasehat agung dari Al Quran.

Berdasarkan analisis diatas dapat disimpulkan bahwa diantara faedah dari ayat ini adalah ;

1.      Salah satu metodologi pendidikan Qurani adalah menyelesaikan problem peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar dengan memberikan perumpamaan yang mudah dipahami oleh anak didik.

2.      Diperbolehkan bagi setiap pendidik untuk menguji peserta didik dalam menentukan pilihan atas dua permasalahan yang sama kuat.

3.      Sepantasnya bagi seorang pendidik untuk mengajak anak didik agar mampu mengidentifikasi keistimewaan waktu dan  amal perbuatan tertentu.

4.      Termasuk metodologi pendidikan yang terkandung dalam ayat ini adalah diperbolehkannya seorang pendidik memberikan punishment kepada siswa yang tidak mengikuti rambu-rambu syariat dan tata tertib.

5.      Salah satu cara mengembalikan perhatian siswa kepada tema materi pembelajaran adalah dengan memanggil mereka dengan panggilan yang lembut seperti wahai anak-anakku dan sebagainya.

6.      Memberikan sebuah instruksi/ perintah kepada siswa sebaiknya dibarengi dengan reward sebagai bentuk motivasi dan membangkitkan positif thinking bahwa siswa pasti mampu menyelesaikan tugas yang diberikan. 

       QS. AL HAJJ : 46

        Allah SWT berfirman ;

 )  أَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِي الْأَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَعْقِلُوْنَ بِهَآ أَوْ اٰذَانٌ يَسْمَعُوْنَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِي الصُّدُوْرِ(   

Artinya : “ Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu dengan hati yang mereka punyai itu mereka dapat memahami (hikmahnya) atau dengan telinga yang mereka punyai itu dapat mendengar (kisah nasib orang-orang terdahulu) yang dengan itu mereka mendengar peringatan?. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.

 

Penjelasan umum ayat diatas adalah bahwa kita diperintahkan agar mengambil pelajaran dari puing-puing peninggalan umat-umat terdahulu yang dibinasakan oleh Allah lantaran mereka telah melakukan kedurhakaan kepada Allah. Lalu melakukan kontemplasi (perenungan) secara mendalam dengan akal, memikirkannya dna mengambil pelajaran (i’tibar), nasehat dan menyimaknya penuh perhatian. Karena sesungguhnya yang buta itu bukan penglihatannya akan tetapi hatinya yang buta terhadap kebenaran dan dalam mengambil pelajaran.[5]

Faedah yang dapat dipetik dari ayat ini diantaranya yaitu;

          adanya beberapa metodologi pendidikan Qurani seperti observasi  dilanjutkan praktek.

          Kemudian menyimpulkan inti pokok dari sebuah masalah dalam hal ini materi pembelajarannya,

           dan membuktikan kebenaran suatu ilmu melalui sebuah penelitian, merumuskan manfaat dan hikmah dari sebuah kejadian.

          Bisa pula berupa pendataan, rangkuman atas sebuah kegiatan pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk worksheet.

           QS. AL MAIDAH : 90

] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْـخَمْرُ وَالـْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ[

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

 

Penjelasan umum ayat diatas [6] adalah bahwa adanya sebuah seruan dari Allah kepada orang-orang yang beriman yaitu mereka yang membenarkan Allah dan rasulNya. Seruan itu berupa pemberitahuan bahwa khamr (setiap yang menghilangkan kesadaran akal), berjudi, mengundi nasib dengan murahanah, berkorban untuk anshab[7] adalah termasuk dosa karena perbuatan tazayyun (bujuk rayu) syetan. Dalam ayat ini juga ada perintah untuk menjauhi perbuatan-perbuatan tersebut.

Beberapa metodologi yang terkandung dalam ayat ini adalah;

          seorang pendidik dianjurkan untuk memberikan data lengkap untuk kemudian dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi tema materi pembelajaran.

           Seorang pendidik  dianjurkan untuk menjelaskan manfaat dan tujuan sebuah pembelajaran sehingga peserta didik tidak memperoleh ambiguitas maksud sebuah pembelajaran.

QS. AL AHZAB : 21

  ] لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الاٰخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيْرًا[

Artinya :Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

 

Penjelasan umum ayat diatas adalah Allah SWT telah mengabarkan bahwa wahai kaum muslimin ketahuilah bahwa dalam diri rasulullah SAW itu terdapat banyak qudwah shalihah  (sisi keteladanan yang layak) seperti dalam perjuangannya, kesabarannya dan keteguhan diatas prinsip Islam. Oleh karena itu contohlah beliau wahai orang yang selalu berharap rahmat Allah,  dan kedatangan hari akhir  serta selalu banyak berdzikir kepadaNya.

Metodologi pendidikan dengan keteladanan berarti pendidikan dilakukan dengan memberi contoh, baik berupa tingkah laku, sifat, cara berpikir, dan sebagainya. Banyak ahli pendidikan yang berpendapat bahwa pendidikan dengan teladan merupakan metode pendidikan yang paling berhasil guna. Hal itu karena dalam belajar, orang pada umumnya, lebih mudah menangkap yang kongkrit ketimbang yang abstrak. Penggunaan keteladanan sebagai sebuah metodologi pendidikan juga terlihat dari teguran Allah terhadap orang-orang yang menyampaikan pesan, memberikan pendidikan kepada orang lain akan tetapi tidak mengamalkan muatan pesan pendidikan itu sendiri sebagai mana terdapat dalam Quran surat Ash Shaff : 2-3.

 d.    Beberapa Hadits Nabawi yang berisi Materi Pendidikan Islam.

Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa segala perilaku rasulullah SAW dapat dijadikan teladan dalam pendidikan. Maka sebagai bukti kebenaran Al Quran beliau SAW telah menunjukkan kepada manusia tentang segala hikmah yang dapat diambil dari diri beliau baik ucapan, perbuatan maupun persetujuan beliau terhadap perilaku sebagian sahabat terkait dengan proses pendidikan di masa itu. Diantra hadits nabawi yang berkaitan dengan meteri-materi pendidikan adalah sebagai berikut ;

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَمَعَهَا ابْنَةٌ لَهَا وَفِى يَدِ ابْنَتِهَا مَسَكَتَانِ غَلِيظَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ لَهَا «‏ أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا »‏ .‏ قَالَتْ لاَ .‏ قَالَ «‏ أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ الله بِهِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ »‏ .‏ قَالَ فَخَلَعَتْهُمَا فَأَلْقَتْهُمَا إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم وَقَالَتْ هُمَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِرَسُولِهِ رواه ابو داوود ، الترمذي و النسائ  بإسناد صحيح.

Artinya : Bahwasanya seorang wanita mendatangi Rasulullah bersama putrinya yang mengenakan dua gelang emas yang tebal di tangannya, maka Rasulullah berkata kepadanya:“Apakah engkau telah membayarkan zakatnya?”. Wanita itu menjawab : “Belum.” Rasulullah  berkata: “Apakah menggembirakan dirimu bahwa dengan sebab dua gelang emas itu Allah akan memakaikan atasmu dua gelang api dari neraka pada hari kiamat nanti?” Maka wanita itu pun melepaskan kedua gelang itu dan memberikannya kepada Nabi seraya berkata: “Keduanya untuk Allah U dan Rasul-Nya.” [8]

 

Faedah yang dapat diambil dari hadits ini adalah ;

1.      Melakukan tabayun dari sebuah peristiwa yang dilihat dan kurang disukai.

2.      Harta dihadapan Allah tidak lebih mulia daripada kecintaan terhadap rasulullah.

3.      Segala yang kita miliki akan kembali kepada Allah, sehingga sebaik-baik harta adalah yang diinfakkan di jalan Allah

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ (رواه البخاري)

Artinya : ”Sesungguhnya diantara macam-macam pohon ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya. Dan itu adalah perumpamaan bagi seorang muslim. Katakanlah padaku, pohon apakah itu?” Maka para sahabat beranggapan bahwa yang dimaksud adalah pohon yang berada di lembah-lembah. Abdullah (Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma) berkata:”Aku berpikir dalam hati bahwa pohon itu adalah pohon kurma, tapi aku malu mengungkapkannya.” Kemudian para Shahabat radhiyallahu ‘anhum berkata:”Wahai Rasulullah, pohon apakah itu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:”Ia adalah pohon kurma.”[9]

 

Faedah yang dapat diambil dari dua hadits terakhir  diatas adalah :

1.   Orang yang diberi teka-teki hendaknya memperhatikan indikator yang menunjukkan jawabannya.

2.   Bolehnya seorang alim mmeberikan ujian terhadap santrinya tentang sesuatu yang belum jelas dan menjelaskannya kemudian jika mereka belum faham.

3.   Motivasi untuk memamahami ilmu. Imam Bukhori membuat bab untuk hadits ini bab Fahm fil Ilmu (memahami ilmu)

4.   Dianjurkan bagi seorang pendidik  untuk Dhorbul Amtsal (membuat permisalan) dan asybah (contoh) untuk membantu siswa lebih memahami materi.

5.   Bolehnya pembelajaran dilakukan dengan model Tanya jawab.

6.   Makna  deskriptif membantu untuk mengokohkan pemahaman

7.   Kebenaran sebuah ilmu itu terkadang datang dari orang yang dianggap kecil. Ulama besar terkadang tidak tahu sesuatu yang diketahui orang yang dibawahnya, karena ilmu itu pemberian Allah.

8.   Malu dianggap baik selama tidak melepas maslahat yang ada.

9.   Tauqiir (menghormati) orang yang lebih tua.

 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ -‏ رضى الله عنهما -‏ قَالَ كَانَ عُمَرُ يُدْخِلُنِى مَعَ أَشْيَاخِ بَدْرٍ ،‏ فَقَالَ بَعْضُهُمْ قيل إنّه عبد الرحمن بن عوف – : لِمَ تُدْخِلُ هَذَا الْفَتَى مَعَنَا ،‏ وَلَنَا أَبْنَاءٌ مِثْلُهُ فَقَالَ إِنَّهُ مِمَّنْ قَدْ عَلِمْتُمْ .‏ قَالَ فَدَعَاهُمْ ذَاتَ يَوْمٍ ،‏ وَدَعَانِى مَعَهُمْ قَالَ وَمَا رُئِيتُهُ دَعَانِى يَوْمَئِذٍ إِلاَّ لِيُرِيَهُمْ مِنِّى فَقَالَ مَا تَقُولُونَ (‏ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ * وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ )‏ حَتَّى خَتَمَ السُّورَةَ ،‏ فَقَالَ بَعْضُهُمْ أُمِرْنَا أَنْ نَحْمَدَ الله وَنَسْتَغْفِرَهُ ،‏ إِذَا نُصِرْنَا وَفُتِحَ عَلَيْنَا .‏ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ نَدْرِى .‏ وْ لَمْ يَقُلْ بَعْضُهُمْ شَيْئاً .‏ فَقَالَ لِى يَا ابْنَ عَبَّاسٍ أَكَذَاكَ تَقُولُ قُلْتُ لاَ .‏ قَالَ فَمَا تَقُولُ قُلْتُ هُوَ أَجَلُ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم أَعْلَمَهُ الله لَهُ (‏ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ )‏ فَتْحُ مَكَّةَ ،‏ فَذَاكَ عَلاَمَةُ أَجَلِكَ (‏ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّاباً )‏ قَال عُمَرُ مَا أَعْلَمُ مِنْهَا إِلاَّ مَا تَعْلَمُ .‏. رواه البخاري و غيره

Dari Ibnu Abbas RA, ia menceritakan bahwa Umar pernah mengajakku berkumpul dengan para pembesar pada perang Badar. Sebagian mereka ( dikatakan orang itu adalah Abdurrahman bin Auf ) bertanya-tanya kepada Umar : “ Kenapa engkau ajak masuk pemuda ini dalam majelis kita? kan kita juga punya anak-anak seusianya.” Umar pun kemudian menyahut : “Dia termasuk orang yang telah kalian kenal. Ibnu Abbas meneruskan ceritanya : lalu Umar pun suatu hari mengundang mereka dan juga aku (ibn Abbas), dan aku tidak melihat Umar mengundang mereka  seperti biasanya. Ada sesuatu yang ingin diperlihatkannya kepada mereka sesuatu dariku. Kemudian Umar berkata : “Apa pendapat kalian tentang surat An Nashr ?”. sebagian mereka menjawab : “Kita diperintah untuk bersyukur dan istighfar saat ditolong dan menang.” Sebagian lagi : “Kami tidak mengetahuinya.” Bahkan ada yang diam sama sekali. Lalu Umar berkata padaku : “Ya ibnu Abbas, benarkah demikian ?. aku menjawab : “ Tidak.” Umar pun menyahut : “ Terus apa pendapatmu ? “. Aku menjawab : “Itu adalah kabar tentang ajal (kematian) rasulullah, Allah telah memberitahukannya pada rasulullah. إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ adalah Fathu Makkah, dan itulah tanda ajalmu (Rasulullah) . فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّاباً Umar pun menjawab: “Aku tidak mengetahui sedikitpun dari ayat itu kecuali apa yang engkau beritahu.”[10]  

 

Faedah yang dapat dipetik dari hadits diatas adalah ;

1.   Hendaknya seorang guru itu akrab dengan muridnya

2.   Perlunya mengasah mental murid dalam pergaulan dengan orang yang lebih dewasa

3.   Disyariatkan bagi seorang guru untuk menguji muridnya sesuai dengan ilmu yang telah diketahui

4.   Dalam pembelajaran boleh menggunakan murid untuk dimintai pendapatnya dengan cara diskusi. 

أن سَمُرَةُ بْنُ جُنْدُبٍ رضي الله عنه قال : لَقَدْ كُنْتُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غُلاَماً فَكُنْتُ أَحْفَظُ عَنْهُ فَمَا يَمْنَعُنِى مِنَ الْقَوْلِ إِلاَّ أَنَّ هَا هُنَا رِجَالاً هُمْ أَسَنُّ مِنِّىرواه مسلم في صحيحه

Artinya : Dari Samurah bin Jundub RA. Berkata : Aku dahulu saat mengikat perjanjian dengan rasulullah SAW masih anak-anak. Tapi aku hafal sesuatu dari beliau. Dan tidaklah menghalangiku untuk mengatakannya kecuali disini itu ada orang yang lebih tua. [11]

 

Faedah yang dapat diambil dari hadits ini adalah;

1.   Disyariatkan membiasakan anak-anak untuk menghafal sewaktu masih kecil, karena hafalan dimasa kecil iu sangat berkesan dan lekat dalam ingatan

2.   Disyariatkan untuk menanamkan kepada anak-anak sejak kecil untuk menghormati orang yang lebih tua.

عن مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِى سُفْيَانَ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ      «‏ الْخَيْرُ عَادَةٌ وَالشَّرُّ لَجَاجَةٌ وَمَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ »‏ .‏ رواه ابن ماجة

Artinya : Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA. Dari Rasulullah SAW beliau bersabda : “Kebaikan itu adalah kebiasaan, kejelekan itu sesuatu yang dipertentangkan. Barang siapa yang diinginkan oleh Allah kebaikan, niscaya ia akan dipahamkan oleh Allah tentang agama ini.”[12]

 

Faedah yang dapat diambil dari hadits ini adalah ;

1.   Disyariatkan bagi pendidik untuk memberikan ungkapan yang ringkas dan mudah diingat

2.   Salah satu cara untuk membangkitkan minat belajar siswa adalah diperlihatkan padanya reward yang akan diperoleh jika mampu mencapai tujuan dari pembelajaran.

عن أبي العباس عبد الله بن عباس رضي الله تعالى عنهما قال كنت: خلف النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم يوماً فقال لي: “يا غلام! إنِّي أعلِّمك كلمات: احفظ اللهَ يَحفظك، احفظ اللهَ تَجده تجاهك، إذا سألتَ فاسأل اللهَ، وإذا استعنتَ فاستعِن بالله، واعلم أنَّ الأمَّة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لَم ينفعوك إلاَّ بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعوا على أن يضرُّوك بشيء لَم يضروك إلاَّ بشيء قد كتبه الله عليك، رُفعت الأقلامُ وجَفَّت الصُّحف”رواه الترمذي وقال: “حديث حسن صحيح”، وفي رواية غير الترمذي: “احفظ الله تَجده أمامَك، تعرَّف إلى الله في الرَّخاء يعرفك في الشِّدَّة، واعلم أنَّ ما أخطأك لَم يكن ليصيبَك، وما أصابَك لَم يكن لِيُخطئك، واعلمْ أنَّ النَّصرَ مع الصبر، وأنَّ الفَرَجَ مع الكَرْبِ، وأنَّ مع العُسر يُسراً”.

Artinya : Dari Abul Abbas Abdulloh bin Abbas rodhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam Lalu beliau bersabda , “Nak, aku akan ajarkan kepadamu beberapa patah kata: Jagalah Alloh, Niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Alloh, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Alloh. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Alloh bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Alloh bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah mengering.” (HR Tirmidzi Dia berkata , “Hadits ini hasan shohih”)

Dalam riwayat selain Tirmidzi dengan redaksi: “Jagalah Alloh, niscaya engkau akan senantiasa mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Alloh di waktu lapang niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan, ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidak akan pernah menimpamu dan apa yang telah ditetapkan menimpamu tidak akan pernah luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu selalu mengiringi kesabaran, jalan keluar selalu mengiringi cobaan dan kemudahan itu selalu mengiringi kesusahan.”[13]

 

Faedah dari hadits ini adalah ;

1.    Barang siapa menjaga hukum-hukum Allah pasti akan dijaga oleh Allah

2.    Balasan itu sesuai dengan jenis amal perbuatan

3.    Mengajari anak untuk berpikir positif thinking dan menjauhi negatif thinking

4.    Pentingnya mmebekali anak dengan prinsip-prinsip dasar kehidupan

5.    Disyariatkan seorang pendidik itu memiliki sifat tawadhu, lemah lembut terhadap anak-anak.


 REFERENSI :

Abdurrahman an Nahlawy, at Tarbiyah bil Hiwar, Libanon: Darul Fikr, 1421/2000.

Abdurrazzaq, Abdul Muhsin, Prof. , Fathul Mu’inSyarah Hadits Ar Ba’in, KSA, penerbit Daru Ibnul Qayim, 2001.

Abu Ahmadi, Strategi Belajar Mengajar, Bandung : Pustaka Setia, 2005.

Al Fairuz Abadi (w.817 H) Tafsirul Quran, dikutip dari www. Al tafsir.com

Al Quran dan Terjemahnya, Depag, Cetakan Maktabah Raja Fahd, Saudi Arabia, 2001

Al Utsaimin, Syarah Arbain Nawawiyah, KSA, penerbit Daruts Tsuraya, 1999.

At Tafsirul Muyassar, Saudi Arabia : Penerbit Kompleks Percetakan Al Quran Raja Fahd, 1425 H.

CD Maktabah syamilah 2000, volume 2.

John M Echol dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1995.

Omar Mohammad At Toumy, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1979.

Qamari Anwar, Pendidikan sebagai Karakter Budaya Bangsa, Jakarta, UHAMKA Press, 2003.

Ramayulis dan Samsu Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, Jakarta : Kalam Mulia, 2009.

Shalih Abd. Al Aziz, At Tarbiyah Wa Thuruq Al Tadris, kairo, maarif, 119 H. hal. 196 dalam    Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2008.

Software dari www.hadits3web.com

Winarno Surakhmad, Pengantar Interaksi Belajar Mengajar, Bandung : Tarsito, 1998.


[1]   Ditulis oleh Darsitun, S.Pd.I. Mahasiswa S2 Prodi Magister Manajemen Pendidikan Islam ( MPI ) Pasca Sarjana STAIN Purwokerto 2012

[2] Al Fairuz Abadi (w.817 H) Tafsirul Quran, dikutip dari www. Al tafsir.com

[3] Abdurrahman an Nahlawy, at Tarbiyah bil Hiwar, Libanon: Darul Fikr, 1421/2000, halaman 14 – 37.

[4] Al Fairuz Abadi (w.817 H) Tafsirul Quran, dikutip dari www. Al tafsir.com

[5] Lihat At Tafsirul Muyassar, Saudi Arabia : Penerbit Kompleks Percetakan Al Quran Raja Fahd, 1425 H,  Hal.  337

[6] Ibid, hal.122

[7] Sebuah tempat penyembelihan yang biasa dipakai kaum musyrikin dahulu sebagai bentuk pengagungan kepada tempat tersebut.

[8]  Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i. Hadits ini hasan, dikuatkan sanadnya oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram, dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil [3/296]). 

[9]   Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam shohihnya kitab Al Ilmu, bab Qaulul Muhadits Hadatsanaa no. 61 (1/145-Fathul Bariy) dan Muslim dalam shohihnya kitab Sifatul Munafiqin bab Mitslul mukmin matsalun Nakhlah no. 7029 (17/151- Syarah Nawawi) 

[10]  Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari,pada bab Manzilin Nabiy Saw Yaumal Fathi,  hadits no.3956. 

[11] Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya pada bab Ainal imam yaqumu ‘laihi lish shalatil mayit, hadits no.1603

[12] Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Fadhlul Ulama Wal Hatstsu ‘Ala Thalabil Ilmi hadits no. 218.

[13] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi dalam Al Jami’ul Kabier hadits no.2516

 

Tentang admin_blog

Blog Pribadi
Pos ini dipublikasikan di Studi Ayat Tarbiyah dan Hadits Tarbawi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s