Mendekati Tuhan Mentadabburi Alam

SEJAK tiga abad yang lalu, ketika Isac Newton membacakan bukunya yang berjudul Principhiae Philosophiae Matematica, di depan Royal Society of London, perkembangan sains melesat tajam. Tak kalah populernya, Charles Darwin memunculkan The Origin of Species pada abad 19, yang melahirkan konsep evolusi makhluk hidup, karya ini sekaligus mempertajam pemisahan perkembangan iptek dengan pemahaman keagamaan.

Namun pada dekade terakahir ini, hubungan sains dan agama menguat kembali. Hal ini terutama menyangkut soal temuan-temuan ilmiah oleh para sarjana muslim. Setelah sekian lama, sains dipandang mengancam keberadaan agama pada satu sisi, dan agama dipandang sebagai penghambat perkembangan sains di sisi lain, akhirnya dapat di pertemukan kembali melalui interpretasi yang sehat baik pada teks-teks kitab suci maupun lewat dimensi alam semesta ini.

Kekhawatiaran dan kecurigaan yang berlebihan terhadap saintis modern itu sesungguhnya terlalu berlebihan. Sebab, sains tidak akan pernah menjerumuskan manusia, sebagai kreator yang mengendalikan sains. Sains yang terbentuk pasti juga akan tunduk pada pemiliknya. Hanya saja, persoalan yang terjadi adalah pelaku itu sendiri yang menyalahgunakan sains.

Dalam Islam, Tuhan menurunkan pengetahuan (sumber informasi) kepada manusia melalui dua kategori. Kategori pertama, yaitu pengetahuan itu lewat wahyu yang sifatnya “given” dalam bentuk kata verbal (nash). Pengetahuan ini berupa ayat suci al-Qur’an yang menjadi rujukan dan doktrin ajaran yang menyemangati dan membimbing kualitas hidup manusia ke jalan yang lurus.

Sementara ketegori yang kedua, yaitu pengetahuan yang berasal dari hamparan alam semesta (kauniyah). Sumber pengetahuan kauniyah termasuk ‘‘adah al-alam” yang berhubungan dengan fungsi dan kemanfaatan alam ini diciptakan untuk manusia. Dua pengetahuan ini sama-sama menjadi perantara manusia untuk meyakini bahwa Tuhan itu benar-benar eksis.

Dari sumber teks-teks normatif, Islam sangat menjunjung tinggi serta menghargai pengetahuan. Bahkan salah satu ‘kualitas ibadah’ seseorang dapat dilihat dari segi kesalehan dan kualitas keilmuannya. Islam sendiri tidak membeda-bedakan antara sains yang umum maupun keagamaan. Kedua-duanya merupakan media manusia dalam melacak jejak Tuhan yang menurunkan-Nya. Jadi, untuk menuju Tuhan, tidak mesti pakai pengetahuan keagamaan, pengetahuan umum juga bisa. Dengan begitu, berarti Islam tidak menyediakan ruang terjadinya dikotomi sains.

Islam menghargai bahwa pencarian sains merupakan bentuk ibadah. Dari sudut ajaran Islam yang paling dalam sering diungkapkan bahwa “mencari ilmu adalah wajib bagi muslim mulai lahir hingga akhir ajal”. Tak kalah menariknya, kaum muslim dianjurkan mencari ilmu sampai ke negeri Cina, bahkan di kaum musyrik sekalipun. Jelas sekali, bahwa Islam menempatkan sains itu sebagai puncak dari sesuatu yang Tuhan anugerahkan kepada manusia. Pantas jika “jejak Tuhan” itu dapat di lacak dalam sains.

Cara menyapa Tuhan bukan hanya melewati jalan ritual. Namun, pengkajian sains pada hakikatnya metode lain untuk mendekat Tuhan. Metode ini pasti melakukan eksperimentasi, obserbasi, penalaran teoritis, intuisi untuk membuka seluk beluk alam semesta ini. Terlebih, alam sampai saat ini, masih menjadi lahan strategis yang bisa digali secara terus-menerus dan tiada habis. Karenanya, kejayaan peradaban Islam masa silam, kata Golshani, bukan semata-mata dilandasai ajaran normatif, tetapi karena ada semangat dan motivasi yang tinggi mencari ilmu-ilmu kealaman dan matematis yang Tuhan sediakan di muka bumi ini.

Kesadaran dan perhatian terhadap pengkajian sains oleh sarjana muslim terus bergulir. Hasil temuan-temuan mereka semakin menambah tingkat “kedekatan” kaum muslim dengan Tuhan. Selama ini, sains yang didominasi oleh temuan para saintis modern telah merenggangkan hubungan sains dengan agama, sekarang menjadi semakin mengukuhkan bahwa keduanya saling terjadi keteraturan.

Konteks keteraturan merupakan hal yang dikehendaki Tuhan. Sebab, diri Tuhan selalu bisa menjelma dengan apa yang Ia ciptakan, termasuk pada alam. Jadi dengan penguasaan sains, berati mendorong penguatan spiritualitas pada level yang tinggi. Bahkan, Golshani mengaskan bahwa sains dapat membawa ilmuan kepada Tuhan, jika sains ditafsirkan dalam kerangka metafisis yang tepat.

Sebagai seorang fisikawan, Golshani menggunakan penalarannya untuk menafsirkan sains ke dalam kerangka metafisis Islami. Upaya kreatif ini tentu berbeda dengan sebagian pemikir yang sering mencocok-cocokkan “keterkaitan” antara dimensi wahyu dengan dimensi alam. Usaha seperti itu, kata Golshani, merupakan kerja yang tanggung dan kurang percaya diri.

Melalui upaya penalaran demikian ini diharapkan apa yang selama ini terjadi dikotomi ilmu diharapkan tidak akan terjadi lagi. Tanda-tanda kekuasaan Allah dapat dibaca dan dikaji secara bersamaan, baik bersumber dari qur’ani maupun kauni (ilmu pengetahuan bersumber dari alam semesta). Ke depan umat Islam harus kokoh dan unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditopang dengan kekuatan spiritual dan moral yang bersumber pada ajaran Islam.

Untuk menguasai kedua wilayah keilmuan di atas, maka perlu lembaga pendidikan Islam yang memperluas kajian dan membuka ilmu-ilmu eksak, humaniora dan sosial untuk melahirkan sosok manusia yang unggul dan mantap. Lembaga pendidikan Islam tidak saja mengajarkan ilmu-ilmu keislaman (aqidah, fiqih, tasawuf dan sejarah islam) akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah memberikan iklim dan atmosfir kepada siswa/mahasiswa untuk mendalami ilmu-ilmu keislaman dan ilmu umum secara intensif.

Dengan demikian, lembaga pendidikan Islam di masa depan harus berorientasi bagaimana memadukan keilmuan yang bersumber pada ajaran al-Qur’an dan hadits dengan ilmu-ilmu umum yang bersumber pada riset, pemikiran dan alam semesta alam. Lembaga pendidikan Islam yang mampu memberikan peluang dan harapan tumbuhnya peradaban modern yang unggul. Unggul di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dan unggul dibidang spiritual dan akhlak mulia.

Sejak dua Abad silam perkembangan dunia sains berikut turunannya tekhnologi cenderung berwatak ateistik-materialistik, hasilnyapun kerapkali mengancam agama. Teori-teori ilmiah yang dimunculkan sains dilandaskan pada metafisika yang bertentangan dan menyudutkan keyakinan kaum beragama, seperti teori penciptaan alam semesta, manusia, hubungan alam dengan Tuhan dan sebagainya.

Puncaknya ketika Darwin mempopulerkan teori evolusinya lewat karyanya “The Origin of Species” pada 1859.M dengan teori evolusi Darwin telah melawan apa yang menjadi doktrin dan keyakinan kuat kaum beragama terutama mengenai misteri kemunculan manusia. para Darwinisme meyakini bahwa nenek moyang kita bukanlah Adam (nabi) sebagaimana yang diceritakan oleh agama, melainkan kera. Begitu juga dengan alam keberadaannya hanya faktor kebetulan belaka, tidak ada agen yang menciptakannya, termasuk Tuhan.

Keradikalan sains modern dengan memunculkan teori-teori atau temuan-temuan baru yang cenderung bersifat ateistik-materialistik ini terlihat semakin membahayakan kaum agamawan. Kaum agamawan dalam menanggapi atau merespon paradigma sains modern yang bersifat ateistik-materialistik tersebut paling tidak melahirkan tiga corak. (1) berusaha memepertahankan doktrin tradisionalnya, (2) meninggalkan tradisi, dan (3) berusaha merumuskan kembali konsep keagamaan secara ilmiah.

Di Barat perdebatan atau perjumpaan anatara sains dan agama menghasilkan gagasan “sains teistik”, yaitu: sains yang sensitive terhadap keyakinan dan ajaran agama. Sementara dalam Islam hubungan antara sains dan agama telah menjadi topik menarik selama lima puluh tahun terakhir ini. Gagasan mengenai “sains Islami” atau “Islamisasi sains” merupakan reaksi atas sains modern yang ateistik-materialistik tersebut. “Sains Islami” ini pada mulanya dipopulerkan oleh para pemikir muslim seperti Sayyed Hossein Nasr, Ziauddun Sardar lewat karya-karya ilmiahnya.

Buku yang ditulis oleh Golshani guru besar di bidang fisika Universitas Tekhnologi Sayrif Iran ini mencoba menawarkan wacana tentang agama dan sains secara konstruktif, terbuka dan tetap menjunjung tinggi sikap kritis.

Sebagai bukti konkrit Golshani dalam mengusung wacana tentang sains dan agama secara konstruktif dapat dilihat bagaimana ia meletakkan peran Al-Qur’an dalam kaitannya dengan sains. Meskipun Golshani menganggap Al-Qur’an merupakan salah satu sumber ilmu, ia tidak menganggap ayat-ayat Al-Qur’an sebagai sumber langsung teori-teori ilmiah dalam sains, yang dapat digunakan untuk mendukung atau mengkritik teori-teori ilmiah secara langsung.
Akan tetapi Golshani meletakkan Al-Qur’an sebagai sember ilmu berada pada dataran filosofis/metafisi. Al-Qur’an memberikan prinsip-prinsip umum dalam kajian ilmiah dan motivasi yang kuat bagi umat Islam untuk memahami semesta dan isinya demi mendekatkan diri pada Tuhan.

Gagasan yang diusung oleh Golshani ini merupakan jawaban atas kecenderungan popular dikalangan umat Islam dalam menanggapi sains modern, yang sering terjebak pada upaya-upaya tidak produktif. Yaitu pandangan yang hanya sekedar mencocok-cocokkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan teori-teori ilmiah muthakhir saja, bahkan pandangan ini melahirkan “sains Islami” yang tidak berlandaskan pada nilai-nilai universal Islam. Seakan-akan “sains Islami” menghendaki adanya laboratorium yang Islami, hukum gerak versi Islam, teori relativitas versi Islam, atau dengan hanya memahami ayat-ayat Al-Qur’an saja orang kemudian secara serta merta bisa memahami sifat-sifat dan kandungan alam semesta.

Dengan kritis Golshani melebur pandangan tersebut dengan mengusung wacana mengenai agama dan sains secara konstruktif dan tak superficial. Dengan memberikan kerangka metafisis yang Islami terhadap sains dan menjelaskan bagaimana seharusnya sikap kita sebagai umat Islam terhadap perkembangan sains modern?, kalim-klaim kebenaran yang diajuakan oleh sains modern?, serta bagaimana seharusnya kita meletakkan Al-Qur’an (kitab suci) dalam menghadapi sains modern yang berwatak ateistik-materealistik tersebut?.

Dengan demikian Golshani bermaksud menawarkan sains Islami sebagai sains yang berlandaskan pada nilai-nilai universal Islam, dan gagasannya jauh berbeda dengan para pemikir muslim sebelumnya yang menggunakan label serupa.  Golshani ingin menjelaskan kerangka metafisis yang Islami terhadap perkembangan sains dewasa ini.

Gagasan Golshani ini lebih tepat disebut sebagai “penafsiran Islami atas sains” bukan “sains Islami” karena kecenderungannya yang hanya berusaha memberi tafsir secara Islami terhadap sains bukan memunculkan teori yang khas Islam. “Sains Islami” sendiri bagi Golshani adalah upaya para ilmuawan muslim untuk bergerak lebih jauh dari kolega-kolega ilmuwan mereka, dengan melakukan upaya penafsiran demi memposisikannya dalam kerangka metafisis Islami.

Dengan demikian sains Islami tidak lagi hanya sekedar berapologi untuk membela keimanan/keyakinan kaum beragama saja dengan merubah prosedur yang baku dalam sebuah teori atau menghendaki riset-riset ilmiah yang harus merujuk pada kitab suci, sebagaimana yang digagas oleh para pemikir muslim sebelumnya. Namun lebih pada memberikan tafsiran terhadap sains secara Islami, yaitu dengan menggunakan kerangka metafisis yang tepat agar sains dapat mengantarkan manusia pada pemahaman akan semesta dan mengenal Tuhan secara lebih dekat.

Bagi Golshani pandangan dunia religius sangat relevan terhadap sains, terutama dalam tataran penafsiran teori-teori ilmiah. Di samping juga memberikan motivasi yang kuat untuk membaca dan memahami alam semesta beserta isinya dan Tuhan sang pencipta semesta.

Beberapa tema yang dikaji oleh Golshani masih tidak jauh berbeda dengan buku sebelumnya yang berjudul “The Holy Qur’an and the Science of Nature” yang penuh dengan kutipan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis serta disertai dengan kesimpulan-kesimpulan yang sangat straight forward, tanpa ada perdebatan yang seharusnya itu terjadi. Namun, dalam buku ini sudah ada pengembangan daripada buku sebelumnya karena Golshani juga membahas mengenai nilai-nilai etika dalam penerapan sains.

 

Tentang admin_blog

Blog Pribadi
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s