Birrul Walidain : Berbakti Kepada Kedua Orang Tua !

Seorang anak yang berbuat baik merupakan hak yang sudah selayaknya diterima oleh kedua orang tua, lawannya  adalah  Al ‘Uquq yaitu kejelekan, durhaka dan menyia-nyiakan hak orang tua. Birrul Walidain adalah mentaati kedua orang tua di dalam semua hal yang mereka perintahkan kepada engkau, selama tidak bermaksiat kepada Allah. “Termasuk durhaka kepada orang tua adalah menyelisihi/ menentang keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah, sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama hal itu bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi mubah pada asalnya, demikian pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah perkara yang mandub (disukai/ disunnahkan). Maka Barangsiapa yang menyebabkan kedua orang tuanya marah dan menangis, maka dia harus mengembalikan keduanya agar dia bisa tertawa (senang) kembali.”
                Para Ulama’ Islam sepakat bahwa hukum berbuat baik (berbakti) pada kedua orang tua hukumnya adalah wajib, hanya saja mereka berselisih tentang ibarat-ibarat (contoh pengamalan) nya. Ibnu Hazm menjelaskan bahwa  perbuatan Birul Walidain adalah fardhu ‘ain (wajib dilaksanakan oleh masing-masing individu. Bahkan Al Qodli Iyadh mengatakan bahwa Birrul walidain adalah wajib pada selain perkara yang haram. didalam Al Quran banyak sekali ayat yang memerintahkan kita untuk berbakti dan bersikap baik kepada kedua orang tua kita. Diantaranya ;
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (QS. Al Isra’: 23).

Maksud ayat ini adalah  “Allah memerintahkan untuk berbuat baik pada kedua orang tua seiring dengan perintah untuk mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, ini pemberitahuan tentang betapa besar haq mereka berdua, sedangkan membantu urusan-urusan (pekerjaan) mereka, maka ini adalah perkara yang tidak bersembunyi lagi (perintahnya).
                Abdullah bin Abbas seorang sahabat nabi SAW – mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua-, mengatakan bahwa  “Ada Tiga ayat dalam Al Qur’an yang saling berkaitan dimana tidak diterima salah satu tanpa yang lainnya, kemudian Allah menyebutkan diantaranya firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya) : “Bersyukurlah kepada-Ku dan berterimakasihlah kepada dua orang Ibu Bapakmu”, Berkata beliau. “Maka, barangsiapa yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak bersyukur pada kedua Ibu Bapaknya, tidak akan diterima (rasa syukurnya) dengan sebab itu.” Berkaitan dengan ini, Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wassallam bersabda (artinya) : “Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua”  ( Hadits Riwayat Tirmidzi)
                Kemudian dalam hadits rasul SAW yang lainnya ada Hadits  dari shabat nabi SAW yaitu Al Mughirah bin Syu’bah – mudah-mudahan Allah meridhainya, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda (artinya): “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan tidak mau memberi tetapi meminta-minta (bakhil) dan Allah membenci atas kalian (mengatakan) katanya si fulan begini si fulan berkata begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan membuang-buang harta”.  (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)
                Ada beberapa manfaat jika kita bisa mengamalkan perintah berbakti kepada orang tua ini,

Pertama : bersikap baik dan berbuat baik kepada orang tua termasuk Amalan Yang Paling Mulia. Dari sahabat  Abdullah bin Mas’ud mudah-mudahan Allah meridhoinya dia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: “Sholat tepat pada waktunya”, Saya bertanya : Kemudian apa lagi?, Bersabada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Saya bertanya lagi : Lalu apa lagi?, Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Berjihad di jalan Allah”. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
                Yang kedua : berbuat baik dan bersikap baik kepada orang tua merupakan Salah Satu Sebab-Sebab Diampuninya Dosa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya….”, hingga akhir ayat berikutnya : “Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga. Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS. Al Ahqaf 15-16).

Yang ketiga : berbuat baik dan bersikap baik kepada orang tua termasuk salah satu sebab masuknya seseorang ke dalam Surga. Dari sahabat nabi bernama Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Celakalah dia, celakalah dia”, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim). Dari Mu’awiyah bin Jaahimah mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua, Bahwasannya Jaahimah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada anda. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Apakah kamu masih memiliki Ibu?”. Berkata dia : “Ya”. Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak kakinya”. (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Nasa’i)
                Yang keempat : berbuat baik dan bersikap baik kepada orang tua merupakan sebab keridhoan Allah , sebagaimana hadits yang terdahulu “Keridhoan Allah ada pada keridhoan kedua orang tua dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua”.
Yang kelima : berbuat baik dan bersikap baik kepada orang tua merupakan sebab bertambahnya umur. Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh sahabat nabi bernama Anas bin Malik mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang suka Allah besarkan rizkinya dan Allah panjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim”.
Yang keenam : berbuat baik dan bersikap baik kepada orang tua merupakan sebab barokahnya rizki, dalilnya, sebagaimana hadits sebelumnya.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan mudahan-mudahan kita dapat menerapkannya dengan baik. Wallohu a’lam.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

HADIAH UNTUKMU PARA PEMUDA ISLAM

Kami persembahkan nasehat ini untuk teman-temanku para remaja muslim. Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata hati kalian sehingga kalian lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus kalian tunaikan sebagai seorang muslim, agar kalian merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk diisi dengan perkara yang bisa melalaikan kalian dari mengingat Allah Subhanahu Wata’ala sebagai Penciptanya, agar kalian tidak terus-menerus bergelimang ke dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri Akhirat yang kekal abadi.
Banyaklah bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang telah kalian lakukan selama ini. Mudah-mudahan dengan bertaubat, Allah Subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memberi pahala yang dengannya kalian akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Wahai para pemuda, banyak-banyaklah beramal shalih, pasti Allah subhanahu wata’ala akan memberi kalian kehidupan yang bahagia, dunia dan akhirat. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An Nahl: 97)
Engkau Habiskan untuk Apa Masa Mudamu?
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Analisis Standar Mutu Pendidikan Indonesia dan Malaysia

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Mutu adalah kemampuan yang dimiliki oleh suatu produk atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhan atau harapan, kepuasan pelanggan yang dalam pendidikan dikelompokkan menjadi dua, yaitu internal dan eksternal. Internal customer yaitu siswa atau mahasiswa sebagai pembelajar dan eksternal customer yaitu masyarakat dan dunia industri.
Mutu tidak berdiri sendiri artinya banyak faktor untuk mencapainya dan memelihara mutu. Dalam kaitan ini peran dan fungsi sistem penjaminan mutu (Quality Assurance System) sangat dibutuhkan. Yaitu sebuah bentuk kegiatan monitoring, evaluasi atau kajian mutu. Kegiatan penjaminan mutu tertuju pada proses pemenuhan persyaratan atau standar minimum pada komponen input, komponen proses dan hasil atau outcome sesuai yang diharapkan oleh stoke holders. ( UNESCO, 2006 ).
Berdasarkan data dalam Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011, The Hidden Crisis, Armed Conflict and Education yang dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diluncurkan di New York, Senin (1/3/2011), Indeks Pembangunan Pendidikan atau Education Development Index (EDI) berdasarkan data tahun 2008 adalah 0,934. Nilai itu menempatkan Indonesia di posisi ke-69 dari 127 negara di dunia. Sedangkan negara tetangga yakni Malaysia menempati peringkat ke – 65 dari 127 negara didunia. EDI dikatakan tinggi jika mencapai 0,95-1. Kategori medium berada di atas 0,80, sedangkan kategori rendah di bawah 0,80.
Data terakhir yang penulis ketahui, menunjukkan Lansiran badan PBB yang membawahi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan (UNESCO) tentang indeks pembangunan pendidikan atau Education Development Index (EDI) menunjukkan, Indonesia berada di posisi ke-69 dari 127 negara. Indeks yang dikeluarkan pada 2011 ini jauh menurun dari tahun sebelumnya, dan lebih rendah dibandingkan Brunei Darussalam (34), serta terpaut empat peringkat dari Malaysia (65).
Total nilai EDI itu diperoleh dari rangkuman perolehan empat kategori penilaian, yaitu: angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan gender dalam melek literasi; dan kualitas pendidikan yang di antaranya diukur dari tingkat kelulusan, kemampuan baca tulis hitung (calistung), dan rasio murid-guru, angka bertahan siswa hingga kelas V Sekolah Dasar (SD).
Membaca data diatas, tentunya sebagai insan Indonesia ikut merasa prihatin terhadap kualitas Mutu Pendidikan Nasional jika dibandingkan dengan negara tetangga. Ditambah lagi catatan-catatan dalam Sejarah Perbandingan Perkembangan Pendidikan antara Indonesia dan Malaysia terlihat jelas akan hubungan yang kuat juga persaingan yang ketat dalam masalah pendidikan antar kedua negara ini. Bahkan konon pada tahun 1970-an negeri Jiran tersebut mendatangkan tenaga guru dan dosen dari Indonesia sekaligus mengirimkan ribuan mahasiswa dan guru untuk belajar ke Indonesia atas biaya pemerintah mereka.
Disamping itu juga, bila berbicara kualitas pendidikan tinggi secara agregat, setelah dua dekade fakta yang ada mencatat bahwa sang guru telah tertinggal. Salah satunya merujuk pada perangkingan perguruan tinggi yang dilakukan oleh The Times Higher Education Supplement (THES), bekerjasama dengan QS Top Universities. Hasilnya pada tahun 2008, Malaysia menempatkan empat universitas terbaiknya pada posisi 230 (Universitas Malaya), 250 (Universitas Kebangsaan Malaysia), 313 (Universitas Sains Malaysia), dan Universitas Putra Malaysia (320). Sedangkan Indonesia mendudukkan UI pada rangking ke-287, ITB ke-315, UGM ke-317, dan UNAIR ke-502. Teknik perangkingan ini cukup valid dengan memperhitungkan empat indikator, yaitu kualitas penelitian, kesiapan kerja lulusan, pandangan internasional, dan kualitas pengajaran.
Beberapa informasi data diatas, mengundang minat penulis untuk menganalisis Standar Mutu Pendidikan di Indonesia dan Malaysia.
Asumsi sementara penulis, penemuan data diatas hanya untuk menciptakan opini publik bahwa Mutu Pendidikan di Indonesia memang rendah dan tidak dipandang oleh dunia. Sehingga mendorong para insan akademisi Indonesia berbondong-bondong untuk berinstrospeksi diri dan memperbaiki mutu pendidikan nasional.
Demikian pula, hal diatas akan memunculkan opini umum yang berkembang bahwa Mutu Pendidikan di Malaysia dipandang lebih tinggi dan berbobot daripada Indonesia hendaknya tidak menjadikan insan Indonesia berkecil hati kemudian beramai-ramai meninggalkan kemalangan nasib Mutu Pendidikan Indonesia lalu berpindah menuju pendidikan bermutu lebih di luar negeri dan melupakan tanah airnya sendiri. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

MASYARAKAT DALAM SUNNAH

Seorang Muslim sejati ialah muslim yang tidak merugikan orang lain, baik melalui lisan maupun tangannya. Rasululah SAW bersabda :
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ (صحيح مسلم -ج 1 / ص 48)
“Orang Islam pada hakikatnya ialah orang Islam lainnya selamat (terhindar) dari lisan dan tangannya” (HR. Muslim)
Demikian pula seorang muslim itu tidak merugikan tetangga, menghormati tamu, dan lebih baik diam jika tak sanggup berbicara yang santun. Rasulullah SAW bersabda :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِى جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ.(صحيح مسلم – ج 1 / ص 49)
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah menyakiti tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, haruslah memuliakan tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, haruslah berbicara yang baik atau jika tidak sanggup diam saja” (HR. Muslim) Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

MUSLIM DAN MASYARAKAT DALAM QURAN

a. Dalam Q.S. Ali Imran : 104 dan 110
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Allah Ta’ala berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)
Sebagian ulama salaf mengatakan, “Mereka bisa menjadi umat terbaik jika mereka memenuhi syarat (yang disebutkan dalam ayat di atas). Siapa saja yang tidak memenuhi syarat di atas, maka dia bukanlah umat terbaik.”
Para salaf mengatakan, telah disepakati bahwa amar ma’ruf nahi munkar itu wajib bagi insan. Namun wajibnya adalah fardhu kifayah, hal ini sebagaimana jihad dan mempelajari ilmu tertentu serta yang lainnya. Yang dimaksud fardhu kifayah adalah jika sebagian telah memenuhi kewajiban ini, maka yang lain gugur kewajibannya. Walaupun pahalanya akan diraih oleh orang yang mengerjakannya, begitu pula oleh orang yang asalnya mampu namun saat itu tidak bisa untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar yang diwajibkan. Jika ada orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar, wajib bagi yang lain untuk membantunya hingga maksudnya yang Allah dan Rasulnya perintahkan tercapai. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

MUSLIM DAN MASYARAKAT

A. PENGERTIAN MUSLIM DAN MASYARAKAT
Kata “Masyarakat” berasal dari bahasa Arab, yaitu شارك – يشارك _ مشاركة , artinya “bergaul”. Tetapi kadang-kadang disebut dengan mujtama’. Dalam Bahasa Inggris masyarakat disebut Society, asal katanya Socius yang berarti “kawan”. Pendapat yang terkuat adalah pendapat pertama.
Masyarakat kota adalah sekumpulan orang yang hidup dan bersosialisasi di daerah yang mungkin bisa dikatakan lebih maju dan lebih modern dan mudah untuk mendapatkan suatu hal yang dicita-citakan. Karena masyarakat kota memiliki tingkat kegengsian yang sangat tinggi sehingga sulit untuk menemukan rasa solidaritas yang tinggi maka dari itu masyarakat kota lebih cenderung individualis, serta tingkat pemikiran, pergaulan dan pekerjaan yang hampir dapat dipastikan berbeda dengan masyarakat di desa .
Masyarakat desa adalah sekumpulan orang yang hidup dan bersosialisasi di daerah yang memiliki keadaan yang sangat berbeda dengan masyarakat kota. Karena desa adalah kebalikan dari kota, tingkat solidaritas yang masih sangat tinggi , serta tingkat kegengsian yang sedikit , serta tingkat kekeluargaan yang masih ada, pergaulan, pemikiran, serta pekerjaan yang berbeda dengan kota.
Sedangkan muslim secara etimologis (asal-usul kata, lughawi) berasal dari kata: اسلم – يسلم – اسلاما – وهو مسلم yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Oleh karena itu, pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT,
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Bahkan, barangsiapa aslama (menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati” (Q.S. Al Baqarah:112).
Karakteristik seorang muslim adalah seorang yang telah meyakini supremasi kebenaran, berusaha untuk mengikuti jalan kebe¬naran itu, tetapi dalam praktek ia belum tangguh karena ia masih suka melupakan hal-hal yang kecil. Sedangkan seorang yang sudah mencapai kualitas mukmin adalah seorang muslim yang sudah istiqamah atau konsisten dalam berpegang kepada nilai-nilai kebenaran, sampai kepada hal-hal yang kecil. Dalam hadis Nabi disebutkan bahwa iman itu mem¬punyai tujuhpuluh cabang, artinya indikator seorang mu’min itu ada tujuhpuluh variabel.
Di antara tujuhpuluh indikator itu antara lain; (1) seorang mukmin hanya berbicara yang baik, (2) jika mendapati sesuatu yang mengganggu orang lewat ketika ia melewati suatu jalan maka ia tidak akan meneruskan perjalanannya sebelum menyingkirkan se¬suatu yang mengganggu itu, (3) merasa sependeritaan dengan muk¬min yang lain, dan sebagainya. Sedangkan Muttaqin adalah orang mukmin yang telah menjiwai nilai-nilai kebenaran dan allergi terhadap kebatilan. Seorang muttaqin adalah orang yang setiap perbuatannya sudah merupakan perwujudan dari komitmen iman dan moralnya yang tinggi. Sehingga Fazlur Rahman, mendefinisikan takwa itu adalah aksi moral yang integral. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Analisa Kebijakan Kurikulum

Mutu pendidikan dipengaruhi oleh mutu proses belajar mengajar; sedangkan mutu proses belajar mengajar ditentukan oleh berbagai komponen yang saling terkait satu sama lain, yaitu input peserta didik, kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, dana, manajemen, dan lingkungan.
Kurikulum merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat strategis karena merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran memberikan makna bahwa di dalam kurikulum terdapat panduan interaksi antara guru dan peserta didik. Dengan demikian, kurikulum berfungsi sebagai “nafas atau inti” dari proses pendidikan di sekolah untuk memberdayakan potensi peserta didik.
Sementara itu Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 14 tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Mandikdasmen) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menyebutkan bahwa salah satu tugas Subdirektorat Pembelajaran – Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas (Dit. PSMA) adalah melakukan penyiapan bahan kebijakan, standar, kriteria, dan pedoman serta pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum.
Lebih jauh dijelaskan dalam Permendiknas nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan Ditjen Mandikdasmen bahwa rincian tugas Subdirektorat Pembelajaran – Dit. PSMA, antara lain melaksanakan penyiapan bahan penyusunan pedoman dan prosedur pelaksanaan pembelajaran, termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan kurikulum. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar